Kamis, 06 Desember 2012

OS BlankOn Banyumas Bisa Hemat Belanja Software Rp 7 Miliar

Achmad Rouzni Noor II - detikinet
 
Jakarta - Jika seluruh pengguna komputer di Kabupaten Banyumas mengadopsi OS BlankOn Banyumas, secara kalkulasi telah terjadi penghematan sekitar Rp 7 miliar untuk pengeluaran belanja sistem operasi dan aplikasi perkantoran.

BlankOn Banyumas sendiri merupakan sistim operasi terbuka berbahasa Banyumas yang dikembangkan oleh komunitas setempat dan dirilis bertepatan dengan Hari Kemerdekaan 17 Agustus kemarin, di Pendopo Wakil Bupati Banyumas.

Direktur Politeknik Pratama, Djati Kusumo Widjoyo, yang ikut menghadiri peluncurannya, menilai kehadiran OS ini bisa menjawab tiga persoalan penting di Banyumas, yaitu mengurangi pembajakan piranti lunak, penghematan belanja TI, dan kemandirian teknologi.

Dari tiga persoalan itu, masalah pembajakan jadi perhatian utama. Menurut Djati, sebagian besar pengguna komputer di Banyumas menggunakan piranti lunak bajakan atau curian. secara hukum, perbuatan itu dapat dikategorikan sebagai tindak pidana. Selain itu, tegasnya, pembajakan bukan karakter warga Banyumas yang menjunjung tinggi watak kesatria.

"Kita mendapat ranking pembajak nomor dua sedunia. Ironisnya, pembajakan software ini dilakukan oleh pemerintah, penegak hukum, akademisi, mahasiswa/pelajar, dan warga. Lama-kelamaan, tindak pencurian dan korupsi dianggap biasa. Apa ini yang dinamakan kota satria? Bahaya, kan!" tegas Djati kepada detikINET, Selasa (21/8/2012).

Kedua, kehadiran OS ini dinilainya bisa memangkas dana belanja piranti lunak. Bagi Djati, pengguna komputer di Banyumas sudah di atas 20 ribu pengguna. Bila para pengguna komputer ini taat hukum maka belanja sistem operasi bisa mencapai Rp 2 miliar.

Selain itu, bila komputer yang digunakan sekadar untuk keperluan perkantoran, misalnya mengetik, olah data, dan presentasi, maka ada sekitar Rp 4-5 miliar untuk belanja aplikasi office.

Nah, menurutnya, jika warga pengguna ini menggunakan OS BlankOn Banyumas, dana tersebut bisa dialihkan untuk keperluan yang lebih penting seperti pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat. Pengalokasian dana untuk keperluan tersebut, tegasnya, menjadi ciri kesatria juga.

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini